Straight Edge


A. Sejarah Pergerakan Straight Edge

Straight Edge adalah sebuah paham positif yang muncul pada pertengahan tahun 80-an di Amerika Serikat dengan slogan “Don’t Smoke, Don’t Drink, Don’t Do Drugs”. Pergerakan Straight Edge muncul sebagai suatu bentuk keprihatinan terhadap situasi yang terjadi di dalam komunitas Punk Rock di Washington DC, Amerika Serikat yang pada saat itu semakin hanyut kedalam attitude negatif dengan slogan “No Future”. Gaya hidup tidak sehat yang dilakukan oleh Punk Rock-ers di Amerika Serikat yang dianggap sudah terdistorsi dan terstandarisasi membuat sekelompok Punk Rock-ers memilih gaya hidup yang berbeda dari tipikal counter culture lain.
Istilah “Straight Edge” atau sXe yang menjadi identitas komunitas yang memilih untuk hidup dengan cara yang berbeda, berasal dari sebuah lagu anthem milik sebuah grup band Punk Rock Minor Threat yang kemudian menjadi influence bagi counter culture Punk Rock sampai sekarang. Lirik lagu tersebut mewakili banyak anak muda yang memang tidak tertarik untuk menjadi tipikal Punk Rock-ers saat itu. Pergerakan ini kemudian mulai meluas dan mendunia. Lambang X di tangan yang semula merupakan penanda bagi anak dibawah umur dan tidak boleh membeli minuman beralkohol menjadi simbol universal pergerakan Straight Edge.
Pada perkembangan selanjutnya, pergerakan sXe menambahkan beberapa “norma” baru dalam paham sXe yaitu “Pro-Life, No Free Sex, Environmentalism, and Animal Rights”. Filosofi tambahan ini sering diwujudkan melalui vegetarianisme atau veganisme. Namun, masalah yang sering diangkat sebagai pendukung pergerakan ini adalah masalah animal rights.


B. Pergerakan Straight Edge di Yogyakarta


Di Indonesia, paham sXe masuk melalui newsletter, zine maupun musik yang dibawakan oleh grup-grup band penganut sXe. Pergerakan sXe disini juga mempengaruhi banyak anak muda untuk mengikuti gaya hidup positif. Straight Edge kemudian menjadi pergerakan yang lebih personal dan menjadi alternatif life style dalam sebuah sub kultur anak muda.
Sama halnya dengan pergerakan sXe yang terdapat di kota-kota lain di Indonesia, hidup dengan cara positif telah membuat sebagian besar remaja Yogyakarta tertarik menjadi anggota komunitas sXe-ers. Seperti pada salah seorang anggota sXe yang menjadi nara sumber, dia mengikuti gaya hidup sXe karena tertarik dengan life style positif yang ditawarkan oleh pergerakan ini. Selain itu, sebelum menjadi seorang sXe-ers, dia memang melakukan hal-hal yang menjadi dasar pergerakan sXe yaitu anti rokok, anti minuman keras dan anti obat-obatan terlarang sehingga menjadi bagian dari pergerakan ini tidak mengubah apapun dalam hidupnya namun malah membawa perubahan yang lebih baik bagi hidupnya.
Pada pergerakan sXe di Yogyakarta ini juga terdapat sXe militan. Straight Edge militan ini merupakan sekelompok sXe-ers yang menganut gaya hidup vegan. Hal ini berkaitan erat dengan filosofi tambahan sebagai konsekuensi perkembangan pergerakan sXe yang menambahkan beberapa norma baru selain norma-norma yang telah menjadi standart komunitas sXe. Idealisme untuk mewujudkan kehidupan yang selaras antara manusia dengan lingkungannya telah memunculkan sub kultur baru sebagai pecahan dari pergerakan sXe, yaitu hardline sXe. Kemunculannya yang menimbulkan konflik internal komunitas sXe sering kali bersifat anarkis.
Pengrusakan restoran fast food yang menjual makanan yang mengandung daging, pengeroyokan terhadap remaja yang sedang melakukan pesta yang disertai dengan minuman keras bahkan melepaskan binatang piaraan yang menjadi hak milik orang lain mewarnai kontroversi keberadaan komunitas ini di masyarakat khususnya di dalam komunitas sXe sendiri. Para sXe-ers militan ini dapat dilihat dari pola makannya yang pure vegetarian dan sama sekali tidak mau berhubungan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan binatang (misalnya tidak mengkonsumsi telur dan susu, tidak mau memakai ikat pinggang yang terbuat dari kulit serta tidak mau menggunakan barang-barang yang berhubungan dengan binatang).

C. Karakteristik Komunitas


Pada anggota sXe kebanyakan, pengaruh yang didapatkan sehingga menjadi seorang sXe-ers adalah melalui musik. Tidak dapat disangkal bahwa musik telah membawa banyak pengaruh kedalam kehidupan masyarakat, bukan hanya pada komunitas-komunitas tertentu seperti komunitas Punk dan sXe. Sebagian besar anggota sXe adalah pemain musik atau orang yang menyukai musik Hard Core. Berawal dari kegiatan berkumpul dengan sesama penggemar musik Hard Core dan melalui penerbitan newsletter, para remaja yang sama sekali tidak mengenal pergerakan ini kemudian termotivasi untuk menjadi bagian dari pergerakan ini. Hal ini seperti yang telah dikemukakan oleh para nara sumber. Karakteristik komunitas ini juga tidak bersifat eksklusif sehingga orang yang bukan merupakan anggota komunitas sXe tetap diterima dengan baik.
Mengenai alasan pemilihan jenis musik Hard Core sehingga menjadi basis dari pergerakan sXe sendiri tidak lepas dari sejarah pergerakan sXe. Ketidakpuasan para sXe-ers terhadap tipikal Punk-ers pada saat itu membuat komunitas sXe-ers melirik jenis musik Hard Core yang karakteristik komunitasnya terbuka dan tidak terdistorsi oleh gaya hidup tidak sehat. Itu sebabnya komunitas sXe sekarang diidentikkan dengan komunitas Hard Core. Namun, bukan berarti seorang anggota komunitas Hard Core adalah juga merupakan seorang sXe-ers.
Komunitas sXe kemudian menjadi salah satu bagian dari beragam komunitas yang membentuk realitas sosial di kota Yogyakarta. Namun, keberadaan komunitas-komunitas sXe di Yogyakarta hampir tidak terlihat. Tidak seperti komunitas punk. Hal ini disebabkan oleh sikap para sXe-ers yang tidak pernah mengklaim dirinya sebagai seorang sXe. Selain itu, komunitas sXe sendiri tidak mempunyai atribut ataupun simbol khusus yang menjadi pembeda antara komunitas sXe dengan komunitas lain. Baik dari gaya berpakaian maupun perilaku para sXe-ers tidak jauh berbeda dengan remaja kebanyakan. Bila komunitas Punk dapat dikenali dari gaya mereka berpakaian dan sikapnya yang anti sosial, maka para sXe-ers hanya dapat dikenali dari pola hidup mereka yang kebanyakan merupakan vegetarian. Keberadaannya yang kurang terlihat menyebabkan kurangnya komunikasi antar komunitas sXe. Walaupun berada di wilayah yang sama seperti di Yogyakarta, para sXe-ers hanya dapat mengenali sesama anggota komunitas tempat dia berkumpul. Tidak ada interaksi yang terjadi antar komunitas sXe. Bila ada, hal tersebut bersifat personal bukan kolektif.
Membahas interaksi sosial yang terjadi pada komunitas sXe tidak lepas dari fenomena yang terlihat jelas pada realitas sosial yang terjadi di Yogyakarta. Telah menjadi sebuah rahasia umum, bahkan sering ditemukan tidak hanya pada sXe-ers di Yogyakarta ini bahwa pada komunitas sXe dengan komunitas Punk timbul sebuah konflik internal yang tidak jarang melibatkan perkelahian fisik. Namun, di Yogyakarta sendiri anggota dari masing-masing komunitas tersebut saling menghargai. Ketika para sXe-ers mengadakan konser musik underground di Fame Club, Apartemen Sejahtera beberapa waktu yang lalu para Punk-ers yang menonton acara tersebut menghargai idealisme sXe dengan memilih untuk merokok dan minum minuman keras di luar area konser.

D. Eksistensi Komunitas Straight Edge Di Yogyakarta


Karena tidak ada hal-hal khusus yang menjadi penanda para anggota komunitas sXe maka keberadaan komunitas tersebut hanya dapat dilihat dari komunitas sXe itu sendiri. Salah satu komunitas sXe yang keberadaannya cukup lama dan dikenal oleh hampir seluruh sXe-ers di Yogyakarta adalah Positive Foundation. Positive Foundation merupakan sebuah organisasi informal yang didirikan sebagai pengganti Karang Malang Straight,sebuah komunitas sXe yang terdapat di daerah Karang Malang, Yogyakarta. Sampai saat ini jumlah anggota dari Positive Foundation sekitar 15 orang, baik yang aktif maupun non aktif. Tujuan pendirian organisasi ini adalah selain sebagai bentuk pergerakan nyata dari komunitas sXe itu sendiri juga sebagai tempat berkumpul dan bertukar informasi bagi sXe-ers. Dalam kurun waktu setahun setelah pendiriannya, Positive Foundation mulai berkembang dan mendukung kegiatan komunitas sXe di Yogyakarta seperti menerbitkan newsletter bernama ‘BETTER DAY’ yang berisi segala informasi mengenai pergerakan sXe itu sendiri beserta informasi mengenai hal-hal yang menjadi idealisme sXe, seperti gerakan animal welfare, perlindungan terhadap satwa-satwa langka, perlindungan terhadap animal rights, dsb. Selain itu, Positive Foundation juga mengadakan kegiatan bakti sosial di panti asuhan dan mendukung acara-acara musik yang diadakan oleh komunitas sXe Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

 
© Grunge Theme Copyright by Adri's Place | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks